24 C
id

Anak Selingkuhan Papa

Harusnya aku berduka. Akan tetapi, kehadiran gadis muda di pemakaman Papa membuat aku murka.

Lebih memuakkan lagi, sosok yang belum pernah kulihat ini, bahkan menolak untuk pergi ketika kuusir dengan halus agar tidak mengganggu sakralnya acara keluarga.
Bagaimana mungkin ada wanita asing yang meraung-raung di pusara Papa, ketika aku dan Mama masih meneteskan duka.
“Papamu itu ayah kandung saya. Saya sama berhaknya denganmu hadir di pemakaman ini.”
Begitu jawabnya ketika kusuruh pergi. Sungguh tidak tahu diri.
Dari begitu banyaknya waktu, ia memilih muncul di hari yang seharusnya menjadi momen terakhir aku bersama Papa.
Apa benar ia anak Papa dari wanita lain? Anak selingkuhan Papa? Papa punya selingkuhan?
Ah, tidak mungkin. Wajahnya sama sekali tidak ada mirip-miripnya denganku. Rambutnya ikal sedang milikku panjang tergerai. Hidungnya, bukannya mau sombong, tapi menurutku hidungnya mancung ke dalam. Kulitnya gelap seperti panci gosong. Pakaiannya? Oh, Tuhan, bahkan untuk pemakaman aku memilih baju kurung dan kerudung yang pantas, sedangkan cara berpakaiannya, sangat tidak berkelas. Kalau berdiri berdampingan, tidak mungkin ada yang mengira kami dua perempuan kakak beradik.
Hmm, gara-gara pecundang ini aku jadi berpikir jahat, bahkan di suasana pemakaman yang seharusnya menjadi momen penting manusia untuk menghargai kehidupan dan ingat kematian.
Jangan salahkan aku, dia yang memulai semuanya. Kenapa datang ke pemakaman Papa dan merusak suasana.


Tapi entah kenapa, Mama terlihat sangat tenang. Tidak sedikit pun kulihat raut kaget di wajahnya. Seolah ia sudah tahu keberadaan sang pengacau ini. Atau jangan-jangan, Mama sudah tahu? Mama tahu suaminya selingkuh?
Aku mencolek Mama. Mengajaknya untuk ikut memarahi perusak ketenangan di hari pemakaman. Anehnya, Mama justru menempelkan telunjuk ke mulutnya sambil memberi isyarat agar aku diam.
Perempuan yang mengaku anak Papa tetap saja menangis di pusara. Membuat aku kehilangan selera.
Rasa sedih saat kehilangan kini berubah menjadi marah. Namun, aku tidak tahu lagi kepada siapa aku marah. Ingin aku tumpahkan semua.
Apakah pada Tuhan yang memanggil Papa terlalu cepat?
Atau pada perempuan muda yang mengaku anak kandungnya?
Atau pada Papa yang diam-diam punya anak dari wanita lain?
Mungkin juga pada Mama yang tahu pasangannya selingkuh, tapi tak pernah bercerita.
Aku kini tidak peduli. Yang penting aku murka dan memilih pergi dari pemakaman sebelum acara usai.
Saat para pelayat mulai berdoa aku justru duduk menyendiri, bersenandung di dalam mobil.
Aku seperti tidak kehilangan. Seluruh kebaikan Papa menguap dari ingatan ketika mengetahui bahwa dirinya punya anak selingkuhan.
Oh, Tuhan. Rasa ini. Berarti aku percaya bahwa ia benar-benar anak selingkuhan. Kalau tidak percaya, tentu saja aku tidak marah dan tetap sedih kehilangan Papa. Kini aku marah dan menjauh dari peristirahatan terakhirnya. Itu berarti, percaya Papa tidak sesempurna yang kukira.
Harusnya aku ucapkan, Papa, selamat jalan aku rindu dan aku cinta. Tapi di hati hanya tersisa satu rasa. Aku benci, kenapa berbohong selama ini.
Ingat dia penipu. Aku berusaha meyakinkan diri.
***
Suasana pemakaman masih berjalan hikmah. Terlihat dari jauh perempuan bodoh itu masih saja sesenggukan sambil memegang batu nisan.
Sedangkan aku duduk santai di dalam mobil mendengarkan musik menghibur diri.
Di sekitarku, banyak sopir yang nongkrong dan berbincang satu dan lainnya. Mereka hadir ke pemakaman mengantar majikan. Sama sekali tidak ada kesedihan dalam diri mereka. Ya, tentu saja mereka bukan keluarga, tidak kehilangan sosok pria yang sedang dimakamkan.
Aku kini menjadi salah satu dari mereka, duduk-duduk di dalam mobil tidak merasa kehilangan.
Akan tetapi, tiba-tiba mataku terpaku melihat satu sosok yang mengganggu.
Seorang wanita dengan kerudung hitam, berbaju hitam, menangis terisak sambil memandang prosesi pemakaman. Meski, ia tidak turun sama-sekali.
Hmm, wajah itu rasanya. pernah kulihat.
Di mana ya?
Oh aku tahu!
Wanita itu sangat mirip dengan perusuh yang mengaku sebagai anak Papa.
Pasti, dia ibu dari anak gadis itu. Pasti dia biang kerok dari semua ini. Otak dari penipuan. Haruskah aku tumpahkan semua amarah padanya?
Lihat mobilnya, lumayan mewah.
Kalau dia selingkuhan Papa, pasti dia dapat mobil darinya.
Oh, bukan. Pasti dia penipu dan dapat harta dari penipuan di setiap pemakaman seorang ayah.
Baiklah, ini saatnya aku menumpahkan segala amarah.
***
“Hai, kamu pasti ibu anak yang nangis-nangis di makam ayahku! Iya, kan?”
Aku menggedor jendela mobil yang tertutup. Ia sedang bernyaman-nyaman di dalam mobil ber-AC.
Melihat diriku datang dan marah, wanita setengah baya itu membuka jendela. Ia menarik napas panjang, berusaha menghentikan tangisannya.
Air mata buaya. Sungguh pandai ibu dan anak ini ber-acting.
Wanita ini terlihat dewasa dan santai saja menanggapiku.
“Sebaiknya kamu pergi, daripada menyesal.”
Oh, sungguh berani. Dia kira dengan ancaman seperti itu akan membuatku takut. Aku justru mendekat.
“Menyesal. Kamu yang menyesal!”
Aku nekat menendang pintu mobilnya dan kini ia menjadi gusar.
Ia keluar dari mobil sambil merogoh tas kecil di tangannya. Aku berjaga, jangan-jangan ia akan mengeluarkan pisau lipat atau senjata tajam. Bukankah itu yang dilakukan penjahat?
Ia mendekat dan mulai menghardik.
“Saya sudah bilang, jika tidak berhenti kamu akan menyesal. Sayangnya kamu tidak mendengar dengan baik.”
Dari tas kecilnya ia mengeluarkan buku kecil berwarna hijau.
“Aku sudah tahu ini akan terjadi, jadi sudah kusiapkan di tasku sebelum kemari.”
Wanita itu lalu menyodorkan buku kecil yang dibuka tepat di depan wajahku.
Sebuah surat nikah dengan foto Papa dan dirinya.
Kini aku shock. Ternyata benar ia istri Papa dan anak itu anak kandungnya.
Aku tak kuat berdiri. Mencari mobil terdekat untuk bersandar.
Lalu wanita itu kembali mendekat. Kini aku yang terpojok.
“Kamu lihat, aku punya surat nikah dengan lelaki yang kamu panggil Papa.”
Aku memalingkan wajah, tidak mau melihat buku yang dipaparkan ke wajah.
“Sekarang silakan tanya pada wanita yang kamu panggil Mama. Tanya padanya, apakah ia punya surat nikah seperti ini. Aku yakin dia tidak punya.”
Wanita itu tetap mencecar tanpa memedulikan diriku yang tak mampu mencerna keadaan.
“Lihat anak gadisku, ia lebih tua darimu bukan? Dari situ kamu akan tahu, siapa yang anak selingkuhan.”
Wanita itu tak berhenti menekan. Rasanya semua nurani sudah hilang hari itu.
“Asal kamu tahu, kamu adalah anak pelakor. Ibumu merebut suami dariku. Kehidupan mewah yang kamu dapatkan, semua kamu curi dari anakku.”
Wanita itu tidak berhenti berkata-kata, tapi pandanganku mulai pudar, telingaku tak lagi mendengar.
Aku hanya ingat satu hal sebelum jatuh pingsan.
Ternyata aku adalah anak selingkuhan Papa.
Benarkah?
----
Lanjut?
Penasaran dengan lanjutan kisah "Anak Selingkuhan Papa"
Silakan simak di KBM app username isa alamsyah.
Part 2 sudah diposting di KBM App - part 3 on going
Silakan kunjungi KBM App
username: isa alamsyah
judul : Anak Selingkuhan Papa
Jangan lupa follow dan subsribe ya.
Jika subscriber mencapai 5.000 maka cerita tidak akan dikunci sampai tamat (alias gratis) buat pembaca di minggu pertama.
Sinopsis:
Bagiku, jalinan cinta Mama dan Papa adalah gambaran ideal sebuah pernikahan.
Namun begitu rahasia besar terungkap satu per satu, aku kini menyadari, tidak ada yang namanya pernikahan sempurna. Never!
Apakah kau ingin tahu rahasia cinta kedua orangtuamu?
Aku tidak.
Hanya saja tidak ada cara membalik waktu.
Kini satu per satu rahasia besar terungkap, dan tidak hanya mengagetkan semua menyakitkan.

Anak Selingkuhan Papa
By. Isa
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Posting Komentar

Banner IDwebhost

Google AdSense

Banner IDwebhost