24 C
id

Poligami Bagian 1

Cinta dalam Poligami (1)
Oleh: Saffron
“Jika cinta membuat seorang perempuan setia pada satu laki-laki, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan pada satu perempuan?” @Asma Nadia.
JUJUR, aku seorang penakut dalam mengkritisi, dan apalah artinya diriku dibanding Mbak Asma, sungguh tak pantas aku mengkritisi kalimat singkat di atas. Namun, dorongan cintaku kepada Islamlah, yang membuatku memberanikan diri menulis suara hati ini.
Aku seorang perempuan yang pernah terluka akibat cinta terbagi. Ketika mengetahui, pasangan juga mencintai perempuan lain, sakitnya luar biasa. Bagai sembilu yang menusuk hati dan sakitnya
menjalar ke bawah sampai ke rahim. Sampai-sampai aku takut rahimku tak kuat menanggung penderitaan itu. Setelah itu aku pun sempat trauma dan menutup diri dari hal-hal yang berbau poligami.

Aku pun sempat berpikir, cinta sejati itu hanya dalam drama. Kenyataannya tidak, karena ada Rasulullah. Manusia teladan. Manusia yang paling sempurna di antara sekian manusia. Hingga aku meralat, “Andai tidak ada Rasulullah, maka aku berkata cinta sejati itu tidak ada.”
Bagaimana tidak, rumah tangga kami menginjak 15 tahun, yang kelihatannya baik-baik saja. persilisihan dapat dihitung jari, bahkan mungkin jari sepuluh pun tidak habis. Bagaimana mungkin tiba-tiba ada perempuan lain dalam rumah tangga kami?
Sikap asmaranya tidak berkurang, bahkan semakin hangat. Bagaimana mungkin ternyata ada perempuan lain dalam hatinya? Kehangatan yang diberikannya apakah kepura-puraan? Palsu? Dan di saat seperti ini, setan pun ikut memanas-manasi, hingga aku mengira cinta sejati hanya ada dalam drama. Beruntungnya aku masih ingat Rasulullah.
Jika kita mau berpikir lebih jernih, kita tidak akan menyalahkan suami kita atau perempuan yang tiba-tiba datang dalam rumah tangga. Kita akan sadar, takdirlah yang mengatur semuanya. Takdir lah yang mempertemukan mereka. Takdir yang membuat mereka saling jatuh cinta.
Sakit hati adalah manusiawi. Tapi kita harus ingat: setiap takdir, Allah tentukan. Dan Allah, tidaklah menentukan setiap takdir atau hukum untuk menyakit hamba-hamba-Nya.
Poligami ada dalam sunnah atau diperkecil bahasanya: poligami dibolehkan dalam agama.
Apakah agama tidak berpihak kepada perempuan?
Tidak. Allah tidak pernah pilih kasih. Allah tidak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya. Adapun jika kita sakit karena poligami, itu karena kita belum mampu menyingkap hikmah-hikmah dibalik poligami. Hati kita terlanjut buta, tertutup oleh kebencian.
Seperti halnya shalat. Shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Lalu kenapa umat muslim korupsi dan melakukan kezaliman lainnya, padahal mereka shalat?
Sungguh tak patut menyalahkan shalat, karena kenyataannya itu tergantung praktek tiap individu. Jika shalatnya benar, maka pasti dan pasti akan mencegah perbuatan keji dan munkar. Jika shalatnya tidak benar, maka jangan harap akan memberikan dampak positif pada pelakunya.
Begitu juga poligami. Tergantung pada praktik individu. Memang banyak laki-laki yang tidak bertanggung jawab, rumah tangga jadi berantakan, seenak diri mengabaikan istri dan anak-anak, tapi kita tak bisa menyalahkan hukum poligami. Karena kenyataannya ada keluarga Rasulullah yang menjadi contoh teladan untuk umat muslim.
Kita cemburu, sakit hati. Itu manusiawi. Tapi, hendaknya kita tidak memperturutkan rasa itu. Bahkan seharusnya, kita bercermin diri dari rasa itu. Cemburu dan sakit hati, betapa menandakan kita itu egois. Mau memiliki sendiri. Mau menguasai sendiri. Enggan berbagi, padahal mungkin dia juga membutuhkan kasih sayang.
Benar pepatah mengatakan: cemburu seorang laki-laki, bertanda kuatnya iman. Cemburunya seorang perempuan, itu kufur nikmat.
Di sisi lain, kita berpendapat: boleh poligami asal adil. Sedangkan manusia tidak pernah bisa adil. Dan Al-Qur’an sendiri yang menjelaskan itu.
Kenapa dalih ketidakadilan, membuat kita anti poligami? Seharusnya ketidakadilan itu, membuat kita sadar diri. Kenapa kita menuntut laki-laki yang memang di luar kemampuannya? Sekali lagi, pepatah itu benar. Cemburu perempuan itu kufur nikmat.
Sadarilah rezeki itu berbeda-beda, termasuk kasih sayang dan perhatian suami. Satu ayah, satu ibu, belum tentu mendapatkan kasih sayang yang sama. Karena kenyataannya, Allah yang memberi rezeki.
Apalah lagi makhluk yang bernama suami. Ia makhluk biasa, yang cenderung kepada keindahan dan kecantikan. Jika cenderung ke sebelah, bukan ke kita, itulah rezeki kita. Dan semua itu, Allah yang tentukan. Kewajiban kita, hanya berbuat yang terbaik, demi redha Allah. Bukan redha suami, yang sifatnya hanya sementara.
BERSAMBUNG....
Sumber : islampos
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

2 komentar

  1. Bagus banget artikelnya..
    jalan2 juga di blog unit XI :D
    kangsigit.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kang sigit atas kunjunganya, gimana untuk pemilihan Bupati, Rame yang mana di Sana

      Hapus
Banner IDwebhost

Google AdSense

Banner IDwebhost